Catatan-catatan Kericuhan PON Jabar 2016
Cabang-cabang
olahraga bela diri menjadi yang paling disorot dengan terjadinya
berbagai aksi protes terhadap keputusan wasit. Berikut adalah daftar
berbagai kericuhan yang terjadi sepanjang dua pekan penyelenggaraan PON.
Sepak Bola - Minggu (18/9)
Terjadi
perkelahian antarsuporter ketika DKI Jakarta menghadapi Jawa Barat di
babak penyisihan grup di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor. Akibat
insiden itu, kick-off tertunda sampai 20 menit.
Judo - Sabtu (17/9)
Menilai
banyak keputusan wasit yang kontroversial dan cenderung menguntungkan
tim Jawa Barat, Kontingen Judo Jawa Timur mengeluarkan aksi protes
dengan membuat petisi. Beberapa kontingen dari Bali, Lampung, DIY, dan
Sumatra Utara pun ikut menandatangani petisi tersebut.
Aksi
protes berlanjut hingga hari Senin dengan tidak mendatangi tempat
pertandingan. Sementara itu, kontingen DKI Jakarta yang dijadwalkan
bertanding melawan Banten di nomor beregu putra datang ke arena
pertandingan hanya untuk memberikan hormat. Mereka lalu turun dari arena
pertandingan dan langsung meninggalkan arena.
Karate - Senin (21/9)
Ketua Pengurus Provinsi Federasi Olahraga Karate Indonesia (Forki) Dody Rahmadi Amar melakukan protes keras.
Dalam
surat resmi yang ditembuskan kepada Ketua Umum PB FORKI, Ketua Umum PB
PON, Gubernur DKI Jakarta, Ketua Umum KONI Pusat dan Ketua Umum FORKI
DKI Jakarta disebut ada tiga poin tuntutan. Pertama, meminta mengganti
sistem penyediaan pengundian wasit dan juri yang akan memimpin
pertandingan dengan sistem manual.
Kedua, memohon agar anggota
dewan wasit dari Jawa Barat untuk tidak ditempatkan pada Tatami Manajer
(TM). Serta meminta agar pada saat atlet DKI bertanding tidak
menggunakan wasit/juri dari tuan rumah agar tidak menimbulkan
ketidakobyektifan dan merugikan tim lain.
Ketua Umum PB Forki,
Gatot Nurmantyo, juga sempat merasa kesal dengan berbagai kontroversi.
Ia bahkan tidak mau mengalungi medali kepada pemenang dan memberikan
jempol terbalik kepada wasit seraya meninggalkan lokasi pertandingan.
Polo Air - Senin (19/9)
Insiden
ricuh terjadi kala tim polo air putra Jawa Barat berhadapan Sumatera
Selatan di babak semifinal. Pertandingan terhenti sementara karena tensi
memanas dan kedua tim sempat saling baku hantam di kolam renang.
Kericuhan kemudian meluas ke atas tribun, yang salah satunya melibatkan
pria berseragam militer.
Karate - Senin (21/9)
Ofisial
serta tim pelatih karate Sulsel melakukan protes keras, bahkan beberapa
suporter juga mengamuk di arena, lantaran tidak terima keputusan wasit
di semifinal beregu karate putri Sulsel melawan tim DKI Jakarta.
Kejadian
terjadi saat karateka Sulsel Wiwi Pratiwi melawan wakil DKI. Wasit
sudah memutuskan poin untuk Sulsel, namun manajer DKI melayangkan protes
sehingga keputusan awal kemudian dianulir. Poin Sulsel kemudian
dibatalkan, dan protes DKI diterima.
Wushu Sanda - Rabu (21/9)
Final
wushu Sanda antara atlet Sumatera Utara Rosalina dan atlet Jawa Barat
Selviah Pratiwi berakhir ricuh di GOR Padjadjaran, Bandung.
Ketua
Pengprov Wushu Jabar Edwin Sanjaya tak puas dengan keputusan wasit dan
turun ke lapangan. Edwin bahkan nekat naik ke atas matras dan mengajak
seluruh wasit untuk berkelahi. Merasa tidak dilayani, Edwin memprovokasi
penonton Jabar untuk turun ke lapangan.
Buntut kericuhan itu,
dalam sidangnya pada Kamis (22/9) malam di Bandung, Dewan Hakim PB PON
memutuskan atlet wushu Sumut, Rosalina, dan atlet wushu Jabar Selviah
sebagai juara bersama. Kedua atlet itu pun berhak mendapat medali emas
dari wushu sanda kelas 52 kg putri.
Basket - Rabu (21/9)
Pada
akhir kuarter keempat, para pemain Papua Barat melakukan protes setelah
wasit membuat beberapa keputusan yang dinilai merugikan tim mereka.
Papua Barat memang tengah terjepit setelah kedudukan mereka tertinggal.
Protes
itu bukan cuma dilakukan oleh satu atau dua pemain. Suasana makin panas
setelah salah satu ofisial Papua Barat naik ke tribune penonton.
Kemudian seluruh pemain Papua Barat menggeruduk wasit. Wasit berlari ke
luar GOR dan petugas keamanan berusaha untuk melerai kedua belah pihak
agar ricuh tak berlanjut.
Berkuda Nomor Pacuan
Sembilan
dari 12 peserta protes keras karena menganggap panitia mengistimewakan
tuan rumah. Jabar menerima dua wildcard di nomor pacuan dan bisa
langsung tanding di final, tanpa harus melewati babak penyisihan
terlebih dahulu.
Sembilan daerah yang mengajukan protes adalah,
Sulawesi Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Riau, Sumatera Barat,
Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara
Timur. Sedangkan Jabar, Jawa Tengah dan Yogyakarta tidak ikut mendukung
surat protes ini.
Menurut manajer berkuda DKI Jakarta, Alex
Asmasoebrata, di Pordasi (Persatuan Berkuda Seluruh Indonesia) tidak ada
fasilitas wild card.
Biliar - Kamis (22/9)
Kontingen
biliar DKI Jakarta menganggap Panitia pelaksana dan PB POBSI terlalu
mudah mengganti peraturan. Menurut pelatih biliar DKI, M Azhari Tanjung,
ada kejanggalan ketika ada beberapa nomor yang dihapus dalam PON 2016.
Snooker 15 yang biasa dipertandingkan di SEA Games juga tidak ada do PON 2016.
Senam Artistik - Kamis (22/9)
Riau
dan Jawa Timur menjadi juara bersama cabang olahraga senam artistik
nomor gelang-gelang. Kabid Legalitas dan Advokasi Kontingen Riau,
Meidizon Dahlan, dan Pelatih Senam Riau, Ahmad Markos, melakukan protes
keras karena menganggap atletnya, M. Afrizal, tampil bagus
Setelah
itu akhir video senam atlet kembali dibuka lagi di depan para atlet,
pelatih wasit. Hasilnya para pelatih sepakat atlet Riau M Afrizal layak
menyabet medali emas.
Namun kontingen Jawa Timur yang
sebelumnya telah dinyatakan meraih emas tidak mau dirugikan. Akhirnya
diputuskan medali emas bersama yang diraih M Aprizal bersama atlet Jawa
Timur, Dwi Samsul Arifin.
Drumband - Jumat (23/9)
Bupati
Bogor Nurhayanti terpaksa dievakuasi dari Gedung Kesenian, Kabupaten
Bogor, setelah keributan terjadi pada pengumuman final Lomba Unjuk Gelar
(LUG) Cabang Drumband pada PON XIX/2016 Jabar, Jumat malam.
Keributan
terjadi saat KONI Aceh dan perwakilan tim DKI Jakarta memprotes
keputusan dewan juri pada hasil Final LUG yang dimenangkan oleh Provinsi
Banten sebagai peraih medali emas.
----
Lima tim
mengadakan pertemuan dan membuat sikap bersama terkait penyelenggaraan
perlombaan drum band di PON kali ini. Kelimanya adalah Banten, Aceh,
Jambi, DKI Jakarta, dan DI Yogyakarta. Beberapa dari kelima provinsi itu
juga sempat melakukan protes langsung saat pengalungan medali.
Sepatu Roda -- Jumat (23/9)
Lintasan belum dilengkapi alat penghitung waktu digital sehingga perlombaan sepatu roda hanya memakai manual, atau
stopwatch.
Perhitungan waktu pun tidak diumumkan satu persatu setelah atlet
tampil, tapi setelah seluruh atlet menyelesaikan perlombaannya.
Pada kelas ITT 300 meter putra, hasil perhitungan panitia tidak sama dengan catatan waktu beberapa kontingen.
Hasil
panitia menyatakan atlet Jawa Barat mendulang medali emas atas nama
Azmi Al Ghifari Djayadi dengan catatan waktu, 00.26.256 detik. Disusul
Mirko Andrasari dari DKI Jakarta 26.258 detik di posisi kedua. Sedangkan
medali perunggu diraih Jatim, Reza Oktoriyanto (00.26.463 detik).
Sementara catatan waktu dari tim DKI Jakarta dan Jatim menunjukkan medali emas harusnya jatuh ke atlet DKI.
Tinju - Jumat (23/9)
Dua
kontingen, yakni Papua dan Kalimantan Timur melakukan protes keras
terhadap wasit hakim yang dianggap tidak sportif. Hal itu memicu
kericuhan di dalam dan luar arena.
Tim tinju Kaltim memprotes
keputusan wasit hakim yang memenangkan petinju Jabar, Sulvana, pada
kelas ringan (60 kg) putri atas Wasti Hiskinda dengan skor 2-1. Protes
keras yang dilakukan Kaltim sempat menunda beberapa saat pertandingan
berikutnya karena perangkat komputer milik wasit hakim dibanting oleh
seorang ofisial Kaltim.
Sementara itu, tim tinju Papua memprotes
keputusan wasit hakim yang memenangkan petinju Papua Barat, Selly
Wanimbo, pada kelas laying (48 kg) putri. Namun, protes dari Papua masih
dalam tahap wajar dan tak memicu kerusuhan.
Gulat 74 KG - Sabtu (24/9)
Kericuhan
terjadi saat pegulat Jabar Heri Fadli menghadapi Rendi dari Kalimantan
Selatan. Pegulat tuan rumah sempat memimpin dengan skor 5-3. Tapi,
beberapa saat kemudian muncul protes dari tim pelatih Kalsel yang
menilai wasit pertandingan tidak fair dalam memberikan poin kepada
pegulatnya.
Protes keras dari kubu Kalsel disambut sejumlah
suporter dari perwakilan daerah dengan meneriaki perangkat pertandingan.
Bahkan, ada yang melempar sejumlah botol minuman ke arena pertandingan.
Beberapa
tim ofisial berharap wasit pertandingan asal Korea Selatan yang
memimpin laga tersebut diganti dengan memberikan teriakan 'ganti wasit'
berkali-kali. Situasi tidak kondusif ini menjadikan laga semifinal
diskors oleh panitia pertandingan
Sepak Bola - Rabu (28/9)
Seremoni
pengalungan emas sempat diwarnai protes tim Sulawesi Selatan. Mereka
menolak pengalungan medali perak sebagai bentuk kekecewaan Sulsel pada
laga adu penalti.
Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) Sulsel, Muyladi, melontarkan protes karena ada gangguan dari tribun pada saat adu penalti.
“Dua
penendang (penalti) kami dilaser tadi, di komentator televisi juga
sudah bilang. Ini tidak sportif. Kalau Gubernur tak minta maaf, kami tak
akan ikut upacara,” ujar Mulyadi.
(vws)
SUMBER:CNN INDONESIA