Sabtu, 26 November 2016

LOGO DAN MASKOT PON XVIII RIAU 2012

LOGO DAN MASKOT PON XVIII RIAU 2012




LAYAR DAN GELOMBANG.
Layar dan Gelombang  melambangkan lambang daerah “Lancang Kuning” yang mempunyai makna :
  •  Daerah  Riau  dialiri  oleh  empat sungai besar yaitu: Sungai Kampar, Sungai Rokan, Sungai Indragiri dan Sungai Siak, dimana keempat sungai tersebut merupakan sumber kehidupan yang merupakan kebesaran rakyat Riau
  • Lancang memberikan simbol bahwa kehidupan penuh dengan semangat yang berpacu menuju prestasi.
  • Gelombang laut melambangkan kedinamisan masyarakat Riau bergerak terus menerus tanpa berhenti menghantarkan kemajuan negeri.
  • Warna  merah,  kuning  dan  hijau melambangkan bahwa Riau mempunyai budaya yang tinggi.
LINGKARAN  BERKAIT
Melambangkan  semangat sportifitas yang tinggi dalam persaudaraan menuju prestasi PON.
HURUF DAN ANGKA
Menunjukkan    penyelenggaraan  PON XVIII Tahun 2012 Provinsi Riau.



MASKOT PON XVIII RIAU 2012




BURUNG SERINDIT
WUJUD KESELURUHAN MASKOT
Terinspirasi dari bentuk burung Serindit yang juga sudah dijadikan simbol fauna khas Riau yang melambangkan semangat, enerjik dan kontinuitas gerakan mengejar prestasi bersumber dari rasa keinginan individual untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi kelompok, daerah dan prestasi nasional secara umum.
HURUF DAN ANGKA
Menunjukkan kegiatan PON yang ke XVIII Tahun 2012 diadakan di Provinsi Riau.
OBOR DENGAN API YANG BERKOBAR MENYALA
Sebagai gambaran yang lebih menjurus pada rasa semangat yang menyala-nyala, tak kunjung padam dalam lingkaran makna esensial dunia keolahragaan.
BUSANA MELAYU YANG DIKENAKAN BURUNG SERINDIT
Simbol lokalitas budaya Riau dengan penduduknya yang berbudaya Melayu dengan penonjolan ciri khas pada busana Melayu.
SELEMPANG DADA DENGAN TULISAN PEKAN OLAHRAGA NASIONAL XVIII
Pertanda simbol kebesaran sebagai ajang prestisius dalam bidang olahraga yang mengedepankan rasa sportifitas.
TAPAK (POST STAGE) MELINGKAR DENGAN TULISAN RIAU 2012
 Pertanda tempat dan tahun penyelenggaraan.

Maskot PON JABAR 2016

Kenapa Maskot PON XIX 2016 Harus Surili Lili dan Lala?


Pencak Silat PON XIX/DWI SETYADI/PR
JAWA Barat menjadi tempat berlangsungya perhelatan akbar PON XIX 2016. Sebagaimana umumnya tuan rumah, pelaksana harus memiliki maskot. Untuk itu, diadakan sayembara desain maskot PON XIX.
Pada 8 Maret 2016 ditetapkanlah maskot beserta logo PON XIX di Aula Barat Gedung Sate, Bandung. Untuk maskot, pilihan jatuh pada surili yang merupakan hewan sejenis kera rancangan Tony Suhendar asal Kota Bandung. Maskot surili jantan dinamai Lili sedangkan betina bernama Lala. Namun, bagi sebagian orang, bahkan orang Sunda, banyak yang belum akrab dengan surili.
Surili adalah hewan primata khas dari bagian barat pulau Jawa dan hampir punah. Dalam bahasa Inggris, hewan itu punya beberapa nama seperti Javan Surili,Grizzled Leaf Monkey, Java Leaf Monkey, dan Javan Grizzled Langur. Nama latin binatang itu adalah Presbytis comata.
Surili Jawa terdiri atas dua sub spesies yakni Presbytis comata comata yang hidup di Jawa Barat dan Presbytis comata fredericae yang terdapat di Jawa Tengah.
Umumnya warna tubuh surili dewasa mulai dari kepala sampai bagian punggung yaitu hitam atau cokelat dan keabuan. Warna rambut jambul dan kepala berwarna hitam. Rambut yang tumbuh dibawah dagu, dada dan perut, bagian dalam lengan dan kaki dan ekor, berwarna putih. Warna kulit muka dan telinga hitam pekat agak kemerahan. Bulu anak yang baru lahir berwarna putih dan memiliki garis hitam mulai dari kepala hingga ekor.
Alasan dibalik penetapan Surili sebagai maskot PON kali ini, selain hampir punah, Surili juga merupakan satwa yang hanya terdapat di Jawa Barat dan Banten. Dengan demikan, satwa ini merupakan satwa yang khas dan tidak dapat dijumpai di daerah lain.
Sebagai maskot PON, surili didandani dengan memakai iket atau ikat kepala khas Sunda. Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar sempat menyatakan, maskot itu mencerminkan karakter nilai luhur kejawabaratan, yaitu cageur, bageur, bener, jeung pinter (sehat, murah hati, benar, dan pandai).
Nilai filosofi dari maskot PON ini diharapkan dapat diterapkan pada insan olahraga yang pada akhirnya akan melahirkan masyarakat Jawa Barat yang unggul dalam prestasi dan berkontribusi pada masyarakat luas. Pemilihan maskot itu juga bisa menjadi ajang kampanye guna melindungi keberadaan surili agar tetap lestari. (Qisthi Rabathi Solihat)***

Selasa, 08 November 2016

Catatan-catatan Kericuhan PON Jabar 2016

Catatan-catatan Kericuhan PON Jabar 2016
Cabang-cabang olahraga bela diri menjadi yang paling disorot dengan terjadinya berbagai aksi protes terhadap keputusan wasit. Berikut adalah daftar berbagai kericuhan yang terjadi sepanjang dua pekan penyelenggaraan PON.

Sepak Bola - Minggu (18/9)

Terjadi perkelahian antarsuporter ketika DKI Jakarta menghadapi Jawa Barat di babak penyisihan grup di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor. Akibat insiden itu, kick-off tertunda sampai 20 menit.

Judo - Sabtu (17/9)

Menilai banyak keputusan wasit yang kontroversial dan cenderung menguntungkan tim Jawa Barat, Kontingen Judo Jawa Timur mengeluarkan aksi protes dengan membuat petisi. Beberapa kontingen dari Bali, Lampung, DIY, dan Sumatra Utara pun ikut menandatangani petisi tersebut.

Aksi protes berlanjut hingga hari Senin dengan tidak mendatangi tempat pertandingan. Sementara itu, kontingen DKI Jakarta yang dijadwalkan bertanding melawan Banten di nomor beregu putra datang ke arena pertandingan hanya untuk memberikan hormat. Mereka lalu turun dari arena pertandingan dan langsung meninggalkan arena.

Karate - Senin (21/9)

Ketua Pengurus Provinsi Federasi Olahraga Karate Indonesia (Forki) Dody Rahmadi Amar melakukan protes keras.

Dalam surat resmi yang ditembuskan kepada Ketua Umum PB FORKI, Ketua Umum PB PON, Gubernur DKI Jakarta, Ketua Umum KONI Pusat dan Ketua Umum FORKI DKI Jakarta disebut ada tiga poin tuntutan. Pertama, meminta mengganti sistem penyediaan pengundian wasit dan juri yang akan memimpin pertandingan dengan sistem manual.

Kedua, memohon agar anggota dewan wasit dari Jawa Barat untuk tidak ditempatkan pada Tatami Manajer (TM). Serta meminta agar pada saat atlet DKI bertanding tidak menggunakan wasit/juri dari tuan rumah agar tidak menimbulkan ketidakobyektifan dan merugikan tim lain.

Ketua Umum PB Forki, Gatot Nurmantyo, juga sempat merasa kesal dengan berbagai kontroversi. Ia bahkan tidak mau mengalungi medali kepada pemenang dan memberikan jempol terbalik kepada wasit seraya meninggalkan lokasi pertandingan.

Polo Air - Senin (19/9)

Insiden ricuh terjadi kala tim polo air putra Jawa Barat berhadapan Sumatera Selatan di babak semifinal. Pertandingan terhenti sementara karena tensi memanas dan kedua tim sempat saling baku hantam di kolam renang. Kericuhan kemudian meluas ke atas tribun, yang salah satunya melibatkan pria berseragam militer.

Karate - Senin (21/9)

Ofisial serta tim pelatih karate Sulsel melakukan protes keras, bahkan beberapa suporter juga mengamuk di arena, lantaran tidak terima keputusan wasit di semifinal beregu karate putri Sulsel melawan tim DKI Jakarta.

Kejadian terjadi saat karateka Sulsel Wiwi Pratiwi melawan wakil DKI. Wasit sudah memutuskan poin untuk Sulsel, namun manajer DKI melayangkan protes sehingga keputusan awal kemudian dianulir. Poin Sulsel kemudian dibatalkan, dan protes DKI diterima.

Wushu Sanda - Rabu (21/9)

Final wushu Sanda antara atlet Sumatera Utara Rosalina dan atlet Jawa Barat Selviah Pratiwi berakhir ricuh di GOR Padjadjaran, Bandung.

Ketua Pengprov Wushu Jabar Edwin Sanjaya tak puas dengan keputusan wasit dan turun ke lapangan. Edwin bahkan nekat naik ke atas matras dan mengajak seluruh wasit untuk berkelahi. Merasa tidak dilayani, Edwin memprovokasi penonton Jabar untuk turun ke lapangan.

Buntut kericuhan itu, dalam sidangnya pada Kamis (22/9) malam di Bandung, Dewan Hakim PB PON memutuskan atlet wushu Sumut, Rosalina, dan atlet wushu Jabar Selviah sebagai juara bersama. Kedua atlet itu pun berhak mendapat medali emas dari wushu sanda kelas 52 kg putri.

Basket - Rabu (21/9)

Pada akhir kuarter keempat, para pemain Papua Barat melakukan protes setelah wasit membuat beberapa keputusan yang dinilai merugikan tim mereka. Papua Barat memang tengah terjepit setelah kedudukan mereka tertinggal.

Protes itu bukan cuma dilakukan oleh satu atau dua pemain. Suasana makin panas setelah salah satu ofisial Papua Barat naik ke tribune penonton. Kemudian seluruh pemain Papua Barat menggeruduk wasit. Wasit berlari ke luar GOR dan petugas keamanan berusaha untuk melerai kedua belah pihak agar ricuh tak berlanjut.

Berkuda Nomor Pacuan

Sembilan dari 12 peserta protes keras karena menganggap panitia mengistimewakan tuan rumah. Jabar menerima dua wildcard di nomor pacuan dan bisa langsung tanding di final, tanpa harus melewati babak penyisihan terlebih dahulu.

Sembilan daerah yang mengajukan protes adalah, Sulawesi Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Riau, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Sedangkan Jabar, Jawa Tengah dan Yogyakarta tidak ikut mendukung surat protes ini.

Menurut manajer berkuda DKI Jakarta, Alex Asmasoebrata, di Pordasi (Persatuan Berkuda Seluruh Indonesia) tidak ada fasilitas wild card.

Biliar - Kamis (22/9)

Kontingen biliar DKI Jakarta menganggap Panitia pelaksana dan PB POBSI terlalu mudah mengganti peraturan. Menurut pelatih biliar DKI, M Azhari Tanjung, ada kejanggalan ketika ada beberapa nomor yang dihapus dalam PON 2016.

Snooker 15 yang biasa dipertandingkan di SEA Games juga tidak ada do PON 2016.

Senam Artistik - Kamis (22/9)

Riau dan Jawa Timur menjadi juara bersama cabang olahraga senam artistik nomor gelang-gelang. Kabid Legalitas dan Advokasi Kontingen Riau, Meidizon Dahlan,  dan Pelatih Senam Riau, Ahmad Markos, melakukan protes keras karena menganggap atletnya, M. Afrizal, tampil bagus

Setelah itu akhir video senam atlet kembali dibuka lagi di depan para atlet, pelatih wasit. Hasilnya para pelatih sepakat atlet Riau M Afrizal layak menyabet medali emas.

Namun kontingen Jawa Timur yang sebelumnya telah dinyatakan meraih emas tidak mau dirugikan. Akhirnya diputuskan medali emas bersama yang diraih M Aprizal bersama atlet Jawa Timur, Dwi Samsul Arifin.

Drumband - Jumat (23/9)

Bupati Bogor Nurhayanti terpaksa dievakuasi dari Gedung Kesenian, Kabupaten Bogor, setelah keributan terjadi pada pengumuman final Lomba Unjuk Gelar (LUG) Cabang Drumband pada PON XIX/2016 Jabar, Jumat malam.

Keributan terjadi saat KONI Aceh dan perwakilan tim DKI Jakarta memprotes keputusan dewan juri pada hasil Final LUG yang dimenangkan oleh Provinsi Banten sebagai peraih medali emas.

----

Lima tim mengadakan pertemuan dan membuat sikap bersama terkait penyelenggaraan perlombaan drum band di PON kali ini. Kelimanya adalah Banten, Aceh, Jambi, DKI Jakarta, dan DI Yogyakarta. Beberapa dari kelima provinsi itu juga sempat melakukan protes langsung saat pengalungan medali.

Sepatu Roda -- Jumat (23/9)

Lintasan belum dilengkapi alat penghitung waktu digital sehingga perlombaan sepatu roda hanya memakai manual, atau stopwatch. Perhitungan waktu pun tidak diumumkan satu persatu setelah atlet tampil, tapi setelah seluruh atlet menyelesaikan perlombaannya.

Pada kelas ITT 300 meter putra, hasil perhitungan panitia tidak sama dengan catatan waktu beberapa kontingen.

Hasil panitia menyatakan atlet Jawa Barat mendulang medali emas atas nama Azmi Al Ghifari Djayadi dengan catatan waktu, 00.26.256 detik. Disusul Mirko Andrasari dari DKI Jakarta 26.258 detik di posisi kedua. Sedangkan medali perunggu diraih Jatim, Reza Oktoriyanto (00.26.463 detik).

Sementara catatan waktu dari tim DKI Jakarta dan Jatim menunjukkan medali emas harusnya jatuh ke atlet DKI.

Tinju - Jumat (23/9)

Dua kontingen, yakni Papua dan Kalimantan Timur melakukan protes keras terhadap wasit hakim yang dianggap tidak sportif. Hal itu memicu kericuhan di dalam dan luar arena.

Tim tinju Kaltim memprotes keputusan wasit hakim yang memenangkan petinju Jabar, Sulvana, pada kelas ringan (60 kg) putri atas Wasti Hiskinda dengan skor 2-1. Protes keras yang dilakukan Kaltim sempat menunda beberapa saat pertandingan berikutnya karena perangkat komputer milik wasit hakim dibanting oleh seorang ofisial Kaltim.

Sementara itu, tim tinju Papua memprotes keputusan wasit hakim yang memenangkan petinju Papua Barat, Selly Wanimbo, pada kelas laying (48 kg) putri. Namun, protes dari Papua masih dalam tahap wajar dan tak memicu kerusuhan.

Gulat 74 KG - Sabtu (24/9)

Kericuhan terjadi saat pegulat Jabar Heri Fadli menghadapi Rendi dari Kalimantan Selatan. Pegulat tuan rumah sempat memimpin dengan skor 5-3. Tapi, beberapa saat kemudian muncul protes dari tim pelatih Kalsel yang menilai wasit pertandingan tidak fair dalam memberikan poin kepada pegulatnya.  
Protes keras dari kubu Kalsel disambut sejumlah suporter dari perwakilan daerah dengan meneriaki perangkat pertandingan. Bahkan, ada yang melempar sejumlah botol minuman ke arena pertandingan.

Beberapa tim ofisial berharap wasit pertandingan asal Korea Selatan yang memimpin laga tersebut diganti dengan memberikan teriakan 'ganti wasit' berkali-kali. Situasi tidak kondusif ini menjadikan laga semifinal diskors oleh panitia pertandingan

Sepak Bola - Rabu (28/9)

Seremoni pengalungan emas sempat diwarnai protes tim Sulawesi Selatan. Mereka menolak pengalungan medali perak sebagai bentuk kekecewaan Sulsel pada laga adu penalti.

Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) Sulsel, Muyladi, melontarkan protes karena ada gangguan dari tribun pada saat adu penalti.

“Dua penendang (penalti) kami dilaser tadi, di komentator televisi juga sudah bilang. Ini tidak sportif. Kalau Gubernur tak minta maaf, kami tak akan ikut upacara,” ujar Mulyadi. (vws)
SUMBER:CNN INDONESIA